Senin, 26 September 2011

UNSUR INTRINSIK NOVEL LAYAR TERKEMBANG

Judul Novel      :          Layar Terkembang
Pengarang         :          Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit             :          Balai Pustaka
Tahun Terbit     :          2000 (PS: Pertamakali terbit pada tahun 1936)
Tebal                :          166 halaman
1.      Unsur Intrinsik Novel
a.       Tema : Perjuangan wanita
b.      Latar / Setting
1.      Gedung akuarium di pasar ikan
2.      Rumah Wiriatmaja
3.      Martapura, Kalimantan Selatan
4.      Rumah Sakit Pacet
5.      Rumah Partadiharja
6.      Gedung permufakatan
c.       Alur : maju
d.      Sudut pandang : orang ketiga
e.       Penokohan :
1.      Maria : seseorang yang mudah kagum, mudah memuji, lincah, periang.
2.      Tuti : seseorang yang aktif dalam berbagai kagiatan wanita, selalu serius, jarang memuji, pandai, cakap dalam mengerjakan sesuatu.
3.      Yusuf : seseorang yang baik hati.
4.      Wiriaatmaja : seseorang yang memegang teguh agama, baik hati, penyayang.
5.      Partadiharja : seseorang yang baik hati, teguh pendirian, peduli dengan sesama.
6.      Saleh : seorang lulusan sarjana yang sangat peduli dengan alam sehingga mengabdikan diri sebagai petani dan tinggal di desa.
7.      Rukamah : seseorang yang baik hati, suka bercanda.
8.      Ratna : seorang petani yang pandai, baik hati.
9.      Juru rawat : seseorang yang baik hati.

2.      Biografi Pengarang
Sutan Takdir Alisjahbana dilahirkan di Natal, 11 Februari 1908. Pendidikan : HIS ditempuh sejak 1915-1921. Tahun 1921-1925 Takdir menempuh Pendidikan Kweekschool Bukit Tinggi yang kemudian dilanjutkan ke Hogere Kweekschool di Bandung. Pada tahun 1937-1942 Takdir menjalani pendidikan di Rechtschogeschool di Jakarta. Pendidikan di Fakultas Sastra ditempuhnya tahun 1940-1942. Pada tahun 1979 Takdir mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Bahasa dari Universitas Indonesia dan Pada tahun 1987 mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Sastra dari Universiti Sains Malaysia

Karya-karyanya :         
Tak Putus Dirundung Malang, Dian yang Tak Kunjung Padam, Anak Perawan Disarang Penyamun, Grotta Azzura, Tebaran Mega, Lagu Pemacu Ombak, Perempuan di Persimpangan Zaman, dan Kebangkitan.       
Disamping karya-karya fiksi, Takdir juga menulis karya-karya non fiksi yang antara lain adalah Perjuangan Tanggungjawab dalam Kesustraan Indonesia, dan Amir Hamzah sebagai penyair dan Uraian Sajak Nyanyi Sunyi.

3.      Pengaruh Terhadap Diri Setelah Membaca Novel
            Novel Layar Terkembang memberikan arti penting dari sebuah perjuangan dan pengorbanan. Dalam mencapai apa yang kita cita-citakan, kita harus semangat dan tidak mudah menyerah dan pantang putus asa. Sesulit apapun itu kita harus tetap belajar dan bekerja keras.
            Selain itu, saya menjadi mengerti bahwa sebenarnya wanita juga mampu bersaing dan memiliki hak serta kedudukan yang sama dengan laki-laki. Dari situ kita bisa belajar untuk menghargai wanita dan tidak memandang rendah wanita, kita tidak boleh menjadikan wanita hanya sebagai budak yang bisa kita perintah sesuka hati. Kita harus memberi kesempatan kepada wanita untuk bersaing dan menunjukkan kemampuannya demi mencapai tujuan.
            Dalam menghadapi suatu masalah, kita harus tegar dan jangan mudah menyerah. Kita harus hadapi masalah tersebut dengan usaha, kesabaran, dan berserah diri kepada Tuhan. Kita tidak boleh pasrah dengan kehidupan karena kita yang menentukan kehidupan kita, bukan kehidupan yang menentukan kita. Dan untuk mencapai hal itu, kita harus mempunyai pendirian yang teguh serta semangat untuk mencapai tujuan yang kita cita-citakan.
            Novel ini juga memberikan sebuah arti dari kesetiaan, jika kita mencintai seseorang, kita harus bisa menerima dia apa adanya dan kita harus benar-benar memperjuangkannya. Selain itu, dari novel ini, saya belajar tentang sebuah pilihan. Dimana kita harus memiliki sebuah harapan atau cita-cita dan kita harus berani mengungkapkan apa yang kita cita-citakan itu. Kita juga harus berani dalam berkata tidak untuk sesuatu yang tidak kita sukai karena melakukan sesuatu tanpa ada rasa senang hanya akan membebani diri kita dan tidak akan menimbulkan kebahagiaan.
            Novel ini mengajarkan kepada saya untuk saling menghargai dan peduli terhadap sesama manusia dan terhadap alam. Juga mengajarkan tentang pentingnya pendidikan bagi kita. Karena untuk mencapai tujuan, kita harus memiliki ilmu pengetahuan agar tidak tertinggal dengan orang lain dan mampu bersaing di masyarakat. Dengan memiliki pengetahuan yang luas kita dapat memberikan pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

1 komentar: