Senin, 26 September 2011

SISTEM PEREDARAN DARAH, PERNAPASAN, EKSKRESI, DAN REPRODUKSI PADA KATAK

SISTEM PEREDARAN DARAH, PERNAPASAN, EKSKRESI, DAN REPRODUKSI PADA KATAK

            Kelompok hewan amfibi adalah binatang bertulang belakang berkulit lembab tanpa bulu yang hidup di dua alam. Kebanyakan hewan amfibi pada waktu berupa berudu hidup di air dan bernapas dengan insang. Selanjutnya setelah dewasa hidup di darat dan bernapas dengan paru-paru dan kulit. Hewan amfibi termasuk kelompok hewan berdarah dingin, artinya hewan yang memanfaatkan suhu lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya.
1.      Sistem peredaran darah (sirkulasi) pada katak


http://tifaiftitahbio2008.files.wordpress.com/2010/01/picture9.jpg?w=225&h=300
Sistem peredaran darah katak berupa sistem peredaran darah tertutup dan peredaran darah ganda. Pada sistem peredaran darah ganda, darah melalui jantung dua kali dalam satu kali peredaran. Pertama, darah dari jantung menuju ke paru-paru kemudian kembali ke jantung. Kedua, darah dari seluruh tubuh menuju ke jantung dan diedarkan kembali ke seluruh tubuh.

Urutan peredaran darah pada katak:
seluruh tubuh → serambi kanan → bilik → arteri pulmonalis → paru-paru → vena pulmonalis → serambi kiri → bilik → aorta → seluruh tubuh.
Darah katak terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. Plasma darah mengandung air, protein, darah, dan garam-garam mineral. Sel-sel darah terdiri dari eritrosit (sel darah merah) dan leukosit (sel darah putih). Eritrosit pada katakmemiliki inti dan mengandung hemoglobin untuk mengikat oksigen. Leukosit pada katak juga memiliki inti. Selain memiliki sitem peredaran darah, katak juga memilki sistem peredaran limfe. System peredaran limfe berperdan penting dalam pengambilan cairan tubuh ke dalam peredaran darah.
2.      Sistem pernapasan (respirasi) pada katak

               
     
   Alat pernapasan pada amfibi, misalnya katak, berupa paru-paru, kulit, dan insang. Pada stadium larva (berudu), hewan ini bernapas dengan insang luar. Insang luar berupa tiga pasang lipatan kulit yang banyak mengandung pembuluh kapiler darah. Oksigen yang larut dalam air di sekeliling insang berdifusi ke dalam kapiler-kapiler darah dan berdar ke seluruh jaringan tubuh. Karbondioksida dibawa kembali oleh darah ke alat pernapasan untuk dikeluarkan dari tubuh.

Paru-paru katak berjumlah sepasang. Struktur paru-paru katak berupa kantong tipis yang elastis, dilengkapi dengan lipatan-lipatan pada permukaan dinding dalamnya yang berguna untuk memperluas permukaan. Pada permukaan dinding dalam terdapat kapiler-kapiler darah yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan-jaringan lain dan melepas karbondioksida ke paru-paru.

Mekanisme pernapasan katak
Pada saat katak berinspirasi atau menghirup oksigen dan berekspirasi mengeluarkan karbondioksida, mulut katak selalu dalam keadaan tertutup. Pernapasan pada katak diatur oleh kontraksi dan relaksasi otot perut dan otot rahang bawah.
Inspirasi
Mula-mula tenggorokan bergerak ke bawah sehingga rongga mulut membesar. Hal ini menyebabkan udara masuk melalui lubang hidung ke rongga mulut. Kemudian lubang hidung tertutup oleh diikuti dengan berkontraksinya otot rahang bawah yang menyebabkan rongga mulut mengecil.
Dengan mengecilnya rongga mulut, udara terdorong masuk ke paru-paru. Di paru-paru, oksigen diikat oleh kapiler darah lalu diedarkan ke seluruh tubuh.
Ekspirasi
Fase ini diawali dengan mengendurnya otot rahang bawah dan berkontraksinya otot perut, sehingga paru-paru mengecil dan udara terdorong ke rongga mulut. Sementara itu, celah tekak menutup sehingga terjadi kontraksi rahang bawah. Akibatnya, rongga mulut mengecil sehingga mendorong udara keluar.

Pernapasan dengan kulit berlangsung pada amfibi sewaktu di darat dan di air. Kulit katak selalu basah agar dapat berfungsi sebagai alat pernapasan. Kulit katak sangat tipis, mengandung kapiler darah dan dilengkapi dengan kelenjar-kelenjar penghasil lendir di bagian dermis dan di bawah kulit.

3.      Sistem pengeluaran (ekskresi) pada katak

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK-nYWPGQcKh8yFPip0q6_7PYYHi5_eXx-6lKhq1GhFOjwdjfbj0wB1xhfAd9e9gdpi6Wjt47m5aQovCLx4EUKQWXc7n-XqCgKXaBtJGPnx-JWIEoyhEjFnEinZtMblH-MDj62X8kKxYPR/s320/Amfibi.jpg

Alat ekskresi utama pada katak adalah sepasang ginjal (opistonefros) yang terletak di kanan dan kiri tulang belakang. Ginjal berwarna merah kecoklat-coklatan. Ginjal sebagai alat penyaring akan mengeluarkan zat sisa, yaitu garam-garam mineral dan cairan dari darah. Saluran ekskresi katak merupakan sepasang saluran yang akan bermuara di kloaka. Pada katak jantan, saluran ginjal dan saluran kelaminnnya menyatu, sedangkan pada katak betina tidak.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9S3JdXthkZVyPvFyQazOVjTrE81jNcyPF7AZk6Ou1HlfBepzNOmRzFXQg-P6rfURysf42hkPzX3iXmWZOQCmYHN2OxgIl4noKxvWGfRI2wtzX3DgHJfiP5M6okVG5wcjcYYpxudtimPlB/s320/kidney3.jpg
Ginjal amfibi sama dengan ginjal ikan air tawar yaitu berfungsi untuk mengeluarkan air yang berlebih. Karena kulit katak permeable terhadap air, maka pada saat ia berada di air, banyak air yang masuk ke tubuh katak secara osmosis. Pada saat ia berada di darat harus melakukan konservasi air dan tidak membuangnya. Katak menyesuaikan dirinya terhadap kandungan air sesuai dengan lingkungannya dengan cara mengatur laju filtrasi yang dilakukan oleh glomerulus.


Sistem portal renal berfungsi untuk membuang bahan – bahan yang diserap kembali oleh tubuh selama masa aliran darah melalui glomerulus dibatasi. Katak juga menggunakan kantung kemih untuk konservasi air. Apabila sedang berada di air, kantung kemih terisi urine yang encer. Pada saat berada di darat air diserap kembali ke dalam darah menggantikan air yang hilang melalui evaporasi kulit.

4.      Sistem reproduksi pada katak
Kelompok amfibi, misalnya katak, merupak jenis hewan ovipar. Katak betina dan katak jantan tidak memiliki alat kelamin luar. Pembuahan katak juga terjadi di luar tubuh. Pada saat kawin, katak betina dan katak jantan akan melakukan ampleksus, yaitu katak jantan akan menempel pada punggung katak betina dan menekan perut katak betina. Kemudian katak betina akan mengeluarkan ovum ke dalam air. Setiap ovum yang dikeluarkan katak betina diselaputi oleh selaput telur atau membran vitelin. Sebelumnya, ovum katak yang telah matang dan berjumlah sepasang ditampung oleh suatu corong. Perjalanan ovum dilanjutkan melalui saluran telur atau oviduk. Dekat pangkal oviduk pada katak betina dewasa, terdapat saluran yang menggembung yang disebut kantung telur atau uterus. Oviduk katak betina terpisah dengan ureter (saluran kemih). Oviduk berkelok-kelok dan bermuara di kloaka.

Segera setelah katak betina mengeluarkan ovum, katak jantan juga akan menyusul mengeluarkan sperma. Sperma katak dihasilkan oleh testis yang berjumlah sepasang dan disalurkan ke dalam saluran sperma (vas deferens). Vas deferens katak jantan bersatu dengan ureter (saluran kemih). Dari vas deferens sperma bermuara di kloaka. Setelah terjadi fertilisasi eksternal, ovum akan diselimuti oleh cairan kental, sehingga kelompok telur tersebut berbentuk gumpalan telur.

Gumpalan telur yang telah dibuahi kemudian berkembang menjadi berudu. Berudu awal yang keluar dari gumpalan telur bernafas dengan insang dan melekat pada tumbuhan air dengan alat isap. Makanannya berupa fitoplankton sehingga berudu tahap awal merupakan herbivora. Berudu awal berkembang lebih lanjut dari herbivora menjadi karnivora atau insektivora (pemakan serangga). Bersamaan dengan itu mulai terbentuk lubang hidung dan paru-paru, serta celah-celah insang mulai tertutup. Selanjutnya, celah insang digantikan dengan anggota gerak depan.

Setelah tiga bulan sejak terjadi fertilisasi, mulailah terjadi metamorfosis. Anggota gerak depan menjadi sempurna. Anak katak mulai berani muncul ke permukaan air, sehingga paru-parunya mulai berfungsi. Pada saat itu, anak katak bernafas dengan dua organ, yaitu insang dan paru-paru. Kelak fungsi insang berkurang dan menghilang, sedangkan ekor makin memendek hingga akhirnya lenyap. Pada saat itulah metamorfosis katak selesai.

Kesimpulan
  1. Katak termasuk dalam kelas amfibi. Sistem peredaran darah katak berupa sistem peredaran darah tertutup dan peredaran darah ganda.
  2. Alat pernapasan pada katak berupa paru-paru, kulit, dan insang. 
  3. Alat ekskresi utama pada katak adalah sepasang ginjal (opistonefros) yang terletak di kanan dan kiri tulang belakang.
  4. Reproduksi pada katak terjadi secara eksternal dan cara ovipar dengan perilaku ampleksus. Ovum yang telah dibuahi oleh sperma akan berkembang menjadi berudu dan mengalami metamorfosis sehingga menjadi katak dewasa.
 

PENGARUH LETUSAN GUNUNG MERAPI TERHADAP KEHIDUPAN DAN EKOSISTEM MAKHLUK HIDUP DI SEKITAR MERAPI


                                                                       PENDAHULUAN
Hingga saat ini, gunung berapi masih merupakan misteri bagi manusia. Ilmu yang telah dicapai manusia tentang gunung berapi sangat sedikit sekali. Itupun hanya bagian luarnya saja.
Namun demikian, sebagai penduduk dari sebuah negeri yang dua pulau terbesarnya didominasi oleh deretan pegunungan berapi, tidak ada salahnya kalau kita mempelajari tentang gunung berapi ini. Bagaimana proses terbentuknya, mengapa ada gunung berapi yang aktif dan non aktif, mengapa ada letusan gunung berapi yang kecil dan ada yang besar, mengapa tanah di wilayah sekitar gunung berapi relatif subur, dan sebagainya.
Salah satu gunung berapi yang sangat aktif adalah gunung Merapi di Indonesia. Merapi (ketinggian puncak 2.968 m diatas permukaan laut) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.
Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak di bawah 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat pemukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini (Decade Volcanoes).
Fenomena alam meletusnya gunung merapi tersebut dapat dikatakan bahwa gunung Merapi diibaratkan sebagai sebuah mata uang yang mempunyai dua sisi yang masing-masing berlawanan. Di satu sisi, gunung berapi bisa membuat tanah di sekitarnya sangat subur, tapi di sisi lain, gunung berapi bisa membuat bencana maha dahsyat.



ISI

Gambar puncak gunung Merapi
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung paling aktif di bumi Nusantara, sejarah mencatat setidaknya letusan gunung Merapi sudah terjadi sejak 1000 tahun lalu. Dan karena aktivitas Merapi lah yang mengakibatkan berpindahnya kebudayaan kerajaan Mataram kuno ke daerah Jawa Timur. Selain itu banyak desa dan candi-candi peninggalan kerajaan Mataram Hindu maupun Budha tertimbun abu vulkanik Gunung Merapi, candi-candi tersebut berada di dusun-dusun seperti Kadisoka, Kedulan, dan Sambisari (Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta).          Selain itu letusan Gunung Merapi merubah wujud asli Candi Borobudur yang mulanya berada di tengah-tengah danau.

Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang populer. Karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Tlogolele. Desa ini terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu sekitar lima jam hingga ke puncak.
Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edeweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika. Lereng Merapi, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'.
Letusan-letusan kecil gunung Merapi terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Tahun 1006 M, menurut Van Bemmelen (1949) Gunung Merapi pernah meletus. Akibat letusan ini sebagian puncak runtuh dan longsor ke arah barat daya, tertahan oleh Perbukitan Menoreh, kemudian membentuk gundukan-gundukan bukit yang dikenal sebagai Gendol Hills. Letusan di tahun ini menurut Wikipedia tercatat sebagai salah satu ledakan Gunung Merapi paling hebat membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram kuno harus berpindah ke Jawa Timur, karena tersapu lumpur, namun catatan Van Bemmelen ini masih banyak dipertentangkan dikalangan sejarahwan.
Sejarah mencatat sekitar abad 9-11 Masehi, Gunung Merapi kembali meletus. Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah korban jiwa dalam letusan kali ini, diduga akibat letusan ini mengakibatkan candi-candi yang berada di kawasan sekitar Jawa Tengah bagian selatan terkubur akibat abu vulkanik ini. Di tahun 1672 M Gunung Merapi meletus, akibat letusan itu 3000 orang meninggal dunia. Gunung Merapi kembali meletus dahsyat di tahun 1786, di tahun ini tidak tercatat secara jelas jumlah korban yang tewas akibat ledakan tersebut. Pada tahun 1822, kembali Gunung Merapi meletus tercatat setidaknya 100 orang meninggal dunia. Hanya berselang 50 tahun tepatnya di tahun 1872, Gunung Merapi kembali menghamburkan abu vulkanik secara dahsyat akibatnya 200 orang meninggal dunia. Di tahun 1930 letusan hebat kembali terjadi, kali ini aliran lava, piroklastika, dan lahar hujan, mengguyur dan menghancurkan 13 desa akibatnya 1400 orang tewas akibat peristiwa alam ini.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/67/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Uitbarsting_van_de_Merapi_in_1930_TMnr_10003995.jpg/220px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Uitbarsting_van_de_Merapi_in_1930_TMnr_10003995.jpg    
Gambar  Puncak Merapi pada tahun 1930 dan gambar letusan gunung Merapi
Saat meletus, gunung Merapi mengeluarkan material-material yang terdiri dari lava, tepra, dan gas. Jenis dan jumlah material yang dikeluarkan saat letusan, bergantung pada komposisi magma yang ada dalam gunung berapi tersebut.
Batuan pijar meleleh yang terdapat di dalam perut bumi disebut dengan magma. Magma yang keluar dari gunung berapi saat terjadi letusan, disebut dengan lava. Bila magma bersifat cair (fluid), maka lava yang dihasilkannya akan mengalir dengan cepat di permukaan lereng gunung. Sambil mengalir, lava ini mendingin, dan akhirnya menjadi batuan beku dan membentuk kubah lava baru.
Tepra disebut juga dengan material piroklastik (pyroclastic material). Gunung berapi yang memiliki kandungan magma yang kental (sticky), bila terjadi letusan yang eksplosif, akan menghasilkan aliran piroklastik (pyroclastic flow), atau di Indonesia biasa dikenal dengan istilah wedus gembel. Wedus gembel merupakan awan panas yang tersusun dari batu, debu, bara, dan gas, mengalir menuruni lereng gunung dengan kecepatan yang sangat tinggi, mencapai 300 km/jam. Ini kira-kira 2 kali kecepatan maksimal mobil sedan di jalan Tol. Semua benda yang dilaluinya akan hangus terbakar dan hancur.
Gas yang dihasilkan pada letusan gunung berapi baik yang eksplosif maupun non eksplosif, biasanya dalam bentuk uap. Pelepasan gas yang tiba-tiba dengan tekanan yang sangat tinggi inilah yang menyebabkan terjadinya letusan. Gas yang banyak terkandung dalam gunung berapi antara lain adalah uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), dan sulfur dioksida (SO2); sedangkan gas lainnya dalam jumlah kecil adalah Klorin (CL) dan Fluorin (F).
Gambar gunung Merapi mengeluarkan semburan panas (wedus gembel)
Selain mengeluarkan lava dan batu-batuan besar saat meletus, gunung Merapi umumnya juga menyemburkan uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), asam klorida (HCl), asam fluorida (HF), dan abu vulkanik ke atmosfer. Abu vulkanik mengandung silika, mineral, dan bebatuan. Unsur yang paling umum adalah sulfat, klorida, natrium, kalsium, kalium, magnesium, dan fluoride. Ada juga unsur lain, seperti seng, kadmium, dan timah, tapi dalam konsentrasi yang lebih rendah. Abu vulkanik dari gunung Merapi terbawa angin ke berbagai arah hingga banyak membahayakan warga sekitar, terutama pada kesehatan. Abu vulkanik sering disebut juga pasir vulkanik atau jatuhan piroklastik, yaitu bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan.
http://rendyanggara.files.wordpress.com/2010/11/volcanicashpicture750.jpg?w=480&h=331Penampakan Abu Vulkanik diperbesar
Gambar abu vulkanik Merapi yang diperbesar
Sangat tajam dan bahaya bagi paru2 serta bisa membuat iritasiBandingkan dengan debu biasa yang bulat (tidak tajam)
                                Abu vulkanik Merapi                                                                 Abu biasa
Gambar perbandingan abu vulkanik Merapi dengan abu dari debu biasa
            Kandungan dalam abu vulkanik terdiri atas pasir dan batu-batuan, produk letusan seperti belerang, juga awan panas yang banyak disebut dengan wedhus gembel. Semuanya sangat berpengaruh terhadap kesehatan, khususnya paru-paru. Saat menyerang pernapasan, dampak yang terjadi pun bisa beragam. Misalnya saja saat menyerang kepada orang yang sebelumnya sehat, maka bergantung seberapa besar debu itu menyerang seseorang.
            Posisi juga menentukan seberapa besar abu tersebut masuk ke dalam pernapasan kita. Jika posisi seseorang dekat dengan abu vulkanik yang kemudian masuk ke dalam pernapasan cukup banyak, maka bisa membuat saluran pernapasan membengkak karena efek dari panasnya udara. Yang terjadi, bisa saja sesak napas, bahkan sampai mengancam jiwa.
Apabila abu vulkanik tersebut naik ke angkasa yang kemudian membentuk awan panas, maka bisa menyebabkan terjadinya hujan asam yang juga membahayakan kesehatan maupun lingkungan. Kandungan racun dalam awan panas tadi dapat menurunkan kesuburan tanah dan kematian bagi hewan.
Letusan gunung Merapi menyebarkan debu vulkanik kemana-manaBeberapa hari terakhir abu vulkanik yang keluar bersama material 
vulkanik lainnya sangat pekat di sekitar Gunung Merapi hingga ke Jawa 
Tengah
Gambar abu vulkanik Merapi yang telah menyebar
            Abu vulkanik sangat mengganggu kesehatan manusia terkait dengan berbagai hal, terutama paru, mata, dan kulit. Secara umum, efek abu vulkanik pada paru akan menyebabkan iritasi karena bersifat asam. Iritasi yang terjadi adalah dari saluran pernapasan atas hingga bawah, seperti batuk-batuk atau bersin. Namun jika fasenya lebih lanjut, maka bisa menyebabkan sakit tenggorokan, timbunan dahak, sesak napas, juga kekambuhan pada penyakit paru apabila seseorang sebelumnya telah memiliki riwayat penyakit pernapasan. Akibat lanjutan dari iritasi saluran napas yang terjadi adalah meningkatnya risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sementara untuk efek jangka panjang, bisa terjadi penumpukan debu di paru atau silica yang berisiko terjadinya silikosis.
Dampak kesehatan yang terjadi di luar kesehatan pernapasan atau paru, di antaranya iritasi pada mata, seperti mata berair hingga kebutaan. Kulit pun menjadi bagian yang terkena dampak akan bahaya vulkanik, di antaranya iritasi berupa gatal-gatal, bisa membuat erosi, bahkan kulit bisa terbakar karena abu vulkanik.
Akibat yang ditimbulkan dari letusan gunung Merapi tidak hanya dirasakan oleh manusia saja, peristiwa tersebut dapat menyebabkan terjadinya perubahan ekosistem. Misalnya, di hutan sekitar gunung Merapi banyak hewan, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya yang hidup di sana. Wedus gembel yang turun dari puncak Merapi akan melewati hutan dan merusak ekosistem hutan di wilayah sekitar Merapi. Selain itu, lelehan lahar dingin juga bisa merusak ekosistem sungai meskipun manusia bisa memanfaatkan sisa pasir dari lahar dingin tersebut.
                Banyak korban yang meninggal karena letusan gunung Merapi, banyak yang kehilangan rumah, ternak, dan lapangan pekerjaan. Tanah yang sebelumnya subur berubah menjadi lahan tandus yang gersang dan panas. Tak ada satu pohonpun yang tersisa yang dapat tumbuh.
Gambar suasana setelah terjadi letusan gunung Merapi





PENUTUP
Kesimpulan :
a.     Gunung Merapi adalah salah satu gunung yang sangat aktif di Indonesia dan apabila meletus akan menimbulkan banyak kerugian tidak hanya bagi makhluk hidup di sekitar Merapi tetapi juga bagi orang lain.
b.    Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang populer. Karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edeweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika. Lereng Merapi, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'.
c.     Letusan-letusan kecil gunung Merapi terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali.
d.    Abu vulkanik yang ditimbulkan dari letusan gunung Merapi sangat berbahaya bagi makhluk hidup, karena abu vulkanik mengandung silika, mineral, dan bebatuan serta permukaannya yang tajam. Apabila kita terus menghirup abu vulkanik, maka dapat terjadi gangguan pernapasan pada paru-paru, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), juga dapat menimbulkan iritasi pada mata dan kulit. Dan yang paling parah adalah menimbulkan kematian.
e.     Dampak dari letusan gunung Merapi adalah rusaknya ekosistem di sekitar Merapi. Terjadi kerusakan ekosistem hutan, sungai, dan udara. Selain itu juga menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi manusia atau masyarakat yang tinggal di lereng Merapi. Banyak masyarakat yang kehilangan rumah, hewan ternak, kehilangan lapangan pekerjaan, dan juga kehilangan sanak saudara karena menjadi koban letusan Merapi.








DAFTAR PUSTAKA
http://Letusan Gunung Berapi (Volcanic Eruption) « fadil hanafi's Blog.html

Minggu, 25 September 2011

PERKEMBANGAN BELAJAR PESERTA DIDIK

MAKALAH
KONSEP DASAR PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DAN PENGARUH PERTUMBUHAN FISIK TERHADAP INTELEKTUAL, EMOSI, DAN SOSIAL ANAK




Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah PBPD yang di ampu
 oleh dosen Firosalia Kristin

Disusun oleh :
     Nama  : Deni Prasetya
     NIM    : 292010007
     Kelas   : RS 10 A


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)
S1 PGSD
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA (UKSW)
SALATIGA

Oktober 2010




i




DAFTAR ISI


Halaman

HALAMAN SAMPUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .              i

DAFTAR ISI  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .          ii

BAB I. PENDAHULUAN
1. Latar belakang  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .          1
            2. Rumusan masalah .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .         1
            3. Tujuan penulisan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .          1

BAB II. ISI
            1. Konsep dasar perkembangan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .          2
              1.1 Pengertian perkembangan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .           2
                1.2 Konsep-konsep perkembangan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .           2
                1.3 Aspek-aspek perkembangan pada anak. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .          5
             1.4 Ciri-ciri perkembangan anak. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .         6
          2. Pengaruh pertumbuhan fisik terhadap intelektual, emosi, dan sosial anak         7
                2.1 Pertumbuhan fisik. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .       7
             2.2 Pertumbuhan fisik dalam bidang intelektual anak. . . . . . . . . . . . . . . . .        7
             2.3 Pertumbuhan fisik dalam bidang emosi anak. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .        9
                2.4 Pertumbuhan fisik dalam bidang sosial anak. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .      11

KESIMPULAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .       13

DAFTAR PUSTAKA. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .       14












ii



BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Perkembangan anak merupakan sesuatu yang kompleks. Artinya, banyak faktor   yang turut berpengaruh dan saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak. Perkembangan merupakan perpaduan dari proses-proses biologis, kognitif, dan psikososial. Ini berarti bahwa perkembangan berlangsung secara utuh dalam aspek yang ada dalam diri manusia. Dengan kata lain, setiap aspek perkembangan itu tidak berkembang sendiri-sendiri.
Secara fisik, anak anak pada usia sekolah memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kondisi fisik sebelum dan sesudahnya. Karakteristik perkembangan fisik ini perlu di pelajari dan di pahami oleh para guru dan calon guru karena akan memiliki implikasi tertentu bagi penyelenggaraan pendidikan. Dalam hal ini diasumsikan bahwa aktivitas-aktivitas anak termasuk aktivitas belajar dan aktivitas-aktivitas mental lainnya, akan banyak dipengaruhi oleh kondisi fisiknya. Selain itu, juga diyakini bahwa pertumbuhan fisik anak dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan.

2. Rumusan masalah
1.      Apa saja konsep dasar perkembangan peserta didik ?
2.      Pertumbuhan fisik mempengaruhi sosio-psikologis anak. Bagaimana pengaruh pertumbuhan fisik pada bidang intelektual, emosi, dan sosial anak ?

3. Tujuan penulisan
            Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Belajar Peserta Didik yang di ampu                      oleh dosen Firosalia Kristin.
2.      Memberi informasi kepada pembaca tentang konsep dasar perkembangan peserta didik.
3.      Memberi informasi kepada pembaca tentang pengaruh pertumbuhan fisik terhadap intelektual, emosi, dan sosial anak.
4.      Mendapatkan nilai dari mata kuliah Perkembangan Belajar Peserta Didik.









1


BAB II
ISI


1. Konsep dasar perkembangan

1.1  Pengertian perkembangan
Ada beberapa pengertian perkembangan menurut beberapa ahli antara lain :
  1. Werner, 1969
Perkembangan adalah suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat di ulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat di putar kembali.
  1. Samsu Yusuf
Perkembangan adalah perubahan-perubahan yang di alami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik yang menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah).
  1. E.B Hurlock (istiwidayanti dan soedjarwo, 1991)
Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.

1.2  Konsep-konsep perkembangan
  1. Kematangan / masa peka (maturation)
Kematangan menunjukkan kepada suatu masa tertentu yang merupakan titik kulminasi dari suatu fase pertumbuhan (witherington, 1952). Selain itu, kematangan dijadikan titik tolak kesiapan (rediness) dari sesuatu fungsi (psikofisis) untuk menjalankan fungsinya (Hurlock,1956).
Kematangan merupakan faktor internal (dari dalam) yang dibawa setiap individu sejak lahir, seperti ciri khas, sifat, potensi dan bakat. Pengalaman merupakan intervensi faktor eksternal terutama lingkungan sosial budaya di sekitar individu.    Kedua faktor ini secara simultan mempengaruhi perkembangan seseorang. Seorang anak yang memiliki bakat musik dan didukung oleh pengalaman dalam lingkungan keluarga yang mendukung pengembangan bakatnya seperti menyediakan dan memberi les musik, akan berkembang menjadi seorang pemusik yang handal. Perubahan progresif yang berlangsung terus menerus sepanjang hayat memungkinkan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana manusia hidup. Sikap manusia terhadap perubahan berbeda-beda tergantung beberapa faktor, diantaranya pengalaman pribadi, nilai-nilai budaya, perubahan peran, serta penampilan dan perilaku seseorang.




2



  1. Latihan (exercises)
Dalam situasi belajar, latihan merupakan praktek atau pengulangan suatu
perbuatan atau satu keterampilan verbal untuk dapat di kuasai (J.P. Chaplin,2001). Selain itu, latihan juga dapat dikatakan sebagai kegiatan jasmaniah bagi latihan otot-otot (J.P.Chaplin,2001).
  1. Belajar (learning)
Secara sederhana, belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses dari tidak tahu menjadi tahu atau dari tidak bisa menjadi bisa. Slameto (1995) merumuskan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Winkel (1989) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses kegiatan mental pada diri seseorang yang berlangsung dalam interaksi aktif individu dengan lingkungannya, sehingga menghasil-kan perubahan yang relatif menetap/bertahan dalam kemampuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Jadi, belajar pada hakikatnya merupakan salah satu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku yang relatif dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, yang diperoleh melalui interaksi individu dengan lingkungannya.
Perubahan perilaku sebagai hasil belajar terjadi secara sadar, bersifat terus-menerus, relatif menetap, dan mempunyai tujuan terarah pada kemajuan yang progresif. Belajar pada abad 21, seperti yang dikemukakan Delors (Unesco, 1996), didasar-kan pada konsep belajar sepanjang hayat (life long learning) dan belajar bagaimana belajar (learning how to learn).
Konsep ini bertumpu pada empat pilar pembelajaran yaitu:
      1. Learning to know (belajar mengetahui)
    Dengan memadukan pengetahuan umum yang cukup luas dengan kesempatan       untuk   bekerja melalui kemampuan belajar bagaimana caranya belajar sehingga diperoleh keuntungan dari peluang-peluang pendidikan sepanjang hayat yang tersedia.
      2. Learning to do (belajar berbuat)
    Bukan hanya untuk memperoleh suatu keterampilan kerja tetapi juga untuk mendapatkan kompetensi berkenaan dengan bekerja dalam kelompok dan berbagai kondisi sosial yang informal
      3. Learning to be (belajar menjadi dirinya)
    Dengan lebih menyadari kekuatan dan keterbatasan dirinya, dan terus menerus mengembangkan kepribadiannya menjadi lebih baik dan mampu bertindak mandiri, dan membuat pertimbangan berdasarkan tanggung jawab pribadi.





3



      4. Learning to live together (belajar hidup bersama)
    Dengan cara mengembangkan pengertian dan kemampuan untuk dapat hidup bersama dan bekerjasama dengan orang lain dalam masyarakat global yang semakin pluralistik atau majemuk secara damai.
  1. Peserta didik
Peserta didik dalam arti luas adalah setiap orang yang terkait dengan proses pendidikan sepanjang hayat, sedangkan dalam arti sempit adalah setiap siswa yang belajar di sekolah (Sinolungan, 1997). Departemen Pendidikan Nasional (2003) menegaskan bahwa, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
Menurut Semiawan (1999), konsep peserta didik sebagai suatu totalitas sekurangnya mengandung tiga pengertian :
Pertama, peserta didik adalah mahluk hidup (organisme) yang merupakan suatu kesatuan dari keseluruhan aspek yang terdapat dalam dirinya. Aspek fisik dan psikis tersebut terdapat dalam diri peserta didik sebagai individu yang berarti tidak dapat dipisahkan antara suatu bagian dengan bagian lainnya.
Kedua, keseluruhan aspek fisik dan psikis tersebut memiliki hubungan yang saling terjalin satu sama lain, jika salah satu aspek mengalami gangguan misalnya sakit gigi (aspek fisik), maka emosinya juga terganggu (rewel, cepat marah, dll).
Ketiga, peserta didik usia SD/MI berbeda dari orang dewasa bukan sekedar secara fisik, tetapi juga secara keseluruhan. Anak bukanlah miniatur orang dewasa, tetapi anak adalah manusia yang dalam keseluruhan aspek dirinya berbeda dengan manusia dewasa.
 Sinolungan (1997) mengemukakan bahwa manusia termasuk mahluk totalitas
" homo trieka ". Ini berarti manusia termasuk peserta didik yg merupakan :
1. Makhluk religius, yang menerima dan mengakui kekuasaan Tuhan atas dirinya dan  alam lingkungan sekitarnya.
2. makhluk sosial, yang membutuhkan orang lain dalam berinteraksi dan saling mempengaruhi agar berkembang sebagai manusia.
3. Makhluk individual, yang memiliki keunikan (ciri khas, kelebihan, kekurangan, sifat dan kepribadian, dll), yang membedakannya dari individu lain. Jadi, dalam mempelajari dan memperlakukan peserta didik, termasuk peserta didik usia SD/MI hendaknya dilakukan secara utuh, tidak terpisah-pisah. Kita harus melihat mereka sebagai suatu kesatuan yang unik, yang terkait satu dengan lainnya.








4



      e.   Perkembangan (developement)
            Perkembangan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat progresif (maju), baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perubahan kualitatif atau pertumbuhan merupakan buah dari perubahan aspek fisik seperti penambahan tinggi, berat dan proporsi badan. Sedangkan perubahan kuantitatif meliputi perubahan aspek psikofisik, seperti peningkatan kemampuan berpikir, berbahasa, perubahan emosi dan sikap. Selain perubahan ke arah penambahan atau peningkatan, ada juga yang mengalami pengurangan seperti gejala lupa dan pikun.

1.3  Aspek-aspek perkembangan pada anak
1.   Perkembangan fisik
   Berkaitan dengan perkembangan gerakan motorik, yakni perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, dan otak.
 Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus :
Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik-turun tangga dan sebagainya.
Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya.
2.   Perkembangan emosi
Perkembangan emosi harus dipupuk sejak dini. Misalnya, orang tua harus bisa memberikan kehangatan, sehingga anak akan merasa nyaman. Anak juga akan belajar dari model di lingkungannya. Apa yang ia rasakan akan ia berikan kembali ke lingkungannya. Jika orang tuanya bersikap hangat, ia pun akan bersikap yang sama terhadap lingkungannya. Jika orang tua tak pernah memberikan kehangatan pada anak, anak akan merasa ditolak. Akibatnya, ia bisa depresi yang tentu akan mempengaruhi kemampuannya berinteraksi dengan lingkungan. Akibat lain, anak bisa takut mencoba, malu bertemu dengan orang, dan sebagainya.
3.   Perkembangan kognitif
       Perkembangan kognitif atau proses berpikir anak adalah proses menerima, mengolah sampai memahami info yang diterima. Aspeknya antara lain intelegensi, kemampuan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir logis. Intinya adalah kemampuan anak mengembangkan kemampuan berpikir.






5



Kemampuan ini berkaitan dengan bahasa dan bisa dilatih sejak anak mulai memahami kata. Pada tahap dimana anak mulai memberikan respon dan memahami kata, bisa dimasukkan informasi-informasi sederhana. Misalnya, aturan-aturan yang ada di lingkungan. Bisa juga mengenalkan konsep-konsep dasar, seperti warna, angka, dan sebagainya.
Hambatan dalam bidang kognitif bisa dilihat dari seberapa cepat atau lambat anak menangkap informasi yang diberikan, atau seberapa sulit anak mengungkapkan pikiran. Keterlambatan seperti ini berkaitan dengan kapasitas intelektual yang akan menjadi terbatas pula.
4.   Perkembangan psikososial
      Berkaitan dengan interaksi anak dengan lingkungannya. Misalnya, di usia setahun, anak sudah bisa bermain dengan teman-teman seusianya. Jika anak sudah punya kemampuan itu, orang tua bisa memberikan dukungan. Anak juga sebaiknya juga dikenalkan dengan lingkungan baru. Ajarkan ia cara beradaptasi.
Hambatan perkembangan psikososial akan membuat anak mengalami kecemasan, sulit berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, bisa juga jadi pemalu. Atau sebaliknya, jika orang tua overprotektif, anak menjadi sulit berpisah dengan orang tua, sulit mengerjakan segala sesuatuya sendiri karena tidak pernah diberi kesempatan untuk itu.

1.4  Ciri-ciri perkembangan anak
Ciri-ciri perkembangan secara umum antara lain :
  1. Terjadi perubahan dari aspek fisik ( perubahan tinggi dan berat badan serta orgaan-organ tubuh lainnya) dan aspek psikis ( adanya taanda-tanda semakin bertambahnya perbendaharaan kata-kata dan kematangan kemampuan berpikir, mengingat serta imajinasi kreatifnya dari yang fantasi kerealitas, lenyapnya masa mengoceh berkembanganya rasa ingin tahu terutama yang berhubungan dengan seks, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral, dan keyakinan beragama).
  2. Terjadinya perubahan dalam proporsi.
  3. Lenyapnya tanda-tanda lama dan diperolehnya tanda-tanda baru.











6




2. Pengaruh pertumbuhan fisik terhadap intelektual, emosi, dan sosial anak

2.1 Pertumbuhan fisik
            Setiap anak mengalami pertumbuhan fisik yang berbeda satu sama lain, ada yang berlangsung lambat dan ada pula yang berlangsung cepat. Pertumbuhanan fisik pada anak-anak mengikuti pola yang terarah, yaitu :
·        Otot besar berkembang sebelum otot kecil tangan.
·        Pusat tubuh berkembang sebelum daerah luar.
·        Pembangunan berjalan dari atas ke bawah, dari kepala ke jari kaki.
Secara langsung, pertumbuhan fisik akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak. Sedangkan secara tidak langsung, akan berpengaruh terhadap keadaan dirinya sendiri dan orang lain akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak.
      Ada 4 periode dalam pertumbuhan fisik seseorang, antara lain :
1. Periode pra lahir s.d 6 bulan adalah periode cepat.
2. Akhir tahun pertama pasca lahir adalah periode melambat s.d stabil yaitu antara       usia 8 – 12 tahun.
3. Usia 12 – 18 tahun adalah periode cepat kembali s.d usia dewasa (ledakan pubertas)
4. Tahap tenang adalah periode dewasa s.d lansia walau berat badan kadang berubah-ubah.
     

2.2 Pertumbuhan fisik dalam bidang intelektual anak
            Seiring dengan bertambahnya usia anak, maka pertumbuhan fisik anakpun juga mengalami perkembangan. Hal ini mengakibatkan perkembangan intelektual anak juga ikut berkembang.
            Menurut Piaget, perkembangan intelektual dapat dibagi menjadi beberapa stadium sesuai usia dan keadaan fisik anak, artinya fungsi intelektual pada umur yang berlainan dapat jelas dibedakan satu sama lain. Stadium-stadium tersebut antara lain :
  1. Stadium sensori – motorik (0 – 18 atau 24 bulan)
      Anak yang masih kecil (bayi), menunjukkan tindakan-tindakan yang intelegen. Dalam tindakan-tindakan nampak intelegensinya. Gerakan-gerakan refleks yang pertama membawa ke arah penguasaan pengetahuan mengenai dunia luar.
      Anak sejak lahir, mempunyai sejumlah skema tingkah laku seperti menghisap, meraih (memegang), menggoyang-goyangkan badan, dan memukul sesuatu.
      Piaget berpendapat bahwa dalam perkembangan intelektual selama stadium sensori motorik ini, intelegensi anak baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulasi sensorik. Dalam stadium ini, yang penting adalah tindakan konkrit dan bukan tindakan imajiner atau dibayangkan saja.



7



  1. Stadium pra-operasional (± 18 bulan – 7 tahun)
      Stadium pra-operasional dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolis, imitasi (tidak langsung), serta bayangan dalam mental. Semua proses ini menunjukkan bahwa anak sudah mampu untuk melakukan tingkah laku simbolis. Anak sekarang tidak lagi mereaksi begitu saja terhadap stimulus-stimulus melainkan nampak ada suatu aktivitas internal.
      Anak mampu untuk berbuat pura-pura, artinya dapat menirukan tingkah laku yang dilihatnya (imitasi) dan apa yang dilihatnya sehari sebelumnya ( imitasi tertunda).
       Berpikir pra-operasional masih sangat egosentris. Anak belum mampu secara perseptual, emosional-motivational, dan konseptual untuk mengambil perspektif orang lain.
      Berpikir pra-operasional sangat memusat (centralized). Bila anak dikonfrontasikan dengan situasi yang multi-dimensional, maka anak akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi-dimensi yang lain dan akhirnya juga mengabaikan hubungan antar dimensi-dimensi ini.
      Berpikir pra-operasional adalah tidak dapat di balik (ir-reversable). Anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut dengan arah yang sebaliknya.
  1. Stadium operasional konkrit ( 7 – 11 tahun )
      Stadium operasional konkrit dapat digambarkan sebagai menjadinya positif ciri-ciri yang negatif pada stadium perpikir pra-operasional. Cara berpikir anak yang operasional konkrit kurang egosentris. Ditandai oleh desentrasi yang besar, artinya anak sekarang misalnya sudah mampu untuk memperhatikan lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga untuk menghubungkan dimensi-dimensi ini satu sama lain.
      Namun ada juga kekurangannya dalam cara berpikir yang operasional konkrit. Anak mampu untuk melakukan aktivitas logis tertentu (operasi), tetapi hanya dalam situasi yang konkrit. Dengan kata lain, bila anak dihadapkan dengan suatu masalah (misalnya masalah klasifikasi) secara verbal, yaitu tanpa adanya bahan yang konkrit, maka ia belum mampu untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.
  1. Stadium operasional formal (mulai 11 tahun)
      Berpikir operasional formal mempunyai dua sifat yang penting, yaitu :
1.   Sifat deduktif-hipotesis
            Anak akan memikirkan masalah yang dihadapi secara teoritis. Anak menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisisnya ini, anak lalu membuat suatu strategi penyelesaiannya. Analisis teoritis ini dapat dilakukan secara verbal.


8



2.   Berpikir operasional formal juga berpikir kombinatoris
            Anak yang berpikir operasional konkrit mencoba untuk mencari kemungkinan-kemungkinan kombinasi dari permesalahan secara tidak sistematis, secara trial dan error sampai secara kebetulan ia menemukan kombinasi tersebut. Tetapi sesudahnya ia tidak mampu untuk memproduksinya lagi.

2.3 Pertumbuhan fisik dalam bidang emosi anak
            Drever (1986) mengartikan emosi sebagai suatu keadaan yang kompleks dari organisme yang menyangkut perubahan jasmani yang luas sifatnya (dalam pernafasan, denyut, sekresi kelenjar, dan sebagainya) dan pada sisi kejiwaan, suatu keadaan terangsang yang ditandai oleh perasaan yang kuat dan biasanya merupakan suatu dorongan ke arah suatu bentuk tingkah laku tertentu.
            Sejumlah studi tentang emosi anak telah menyingkapkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung sekaligus pada faktor pematangan (maturation) dan faktor belajar, dan tidak semata-mata bergantung pada salah satunya. Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal masa kehidupan tidak berarti tidak ada. Reaksi emosional itu mungkin akan muncul di kemudian hari, dengan adanya pematangan dan system endokrin.
Hurlock (1999) menjabarkan peran kedua faktor tersebut sebagai berikut :
  1. Peran pematangan
      Perkembangan kelenjar endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Bayi secara relatif kekurangan produksi endokrin yang diperlukan untuk menopang reaksi fisiologis terhadap stress. Kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak lama kemudian kelenjar itu mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat sampai anak berusia 5 tahun. Pembesarannya melambat pada usia 5 sampai 11 tahun, dan membesar lebih pesat lagi sampai anak berusia 16 tahun. Pada usia 16 tahun kelenjar tersebut mencapai kembali ukuran semula seperti pada saat anak lahir. Hanya sedikit adrenalin yang diproduksi dan dikeluarkan sampai saat kelenjar itu membesar. Pengaruhnya penting terhadap keadaan emosional pada masa kanak-kanak.
  1. Peran belajar
      Lima jenis kegiatan belajar turut menunjang pola perkembangan emosi pada masa kanak-kanak. Terlepas dari metode yang digunakan, dari segi perkembangan anak harus siap untuk belajar sebelum tiba saatnya masa belajar. Sebagai contoh, bayi yang baru lahir tidak mampu mengekspresikan kemarahan kecuali dengan menangis. Dengan adanya pematangan sistem saraf dan otot, anak-anak mengembangkan potensi untuk berbagai macam reaksi. Pengalaman belajar mereka akan menentukan reaksi potensial mana yang akan mereka gunakan untuk menyatakan kemarahan.

     
9



Terlepas dari adanya perbedaan individu, ciri khas emosi anak membuatnya berbeda dari emosi orang dewasa. Ciri khas tersebut antara lain : 
  1. Emosi yang kuat
Anak kecil bereaksi dengan intesitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang serius. Anak pra remaja bahkan bereaksi dengan emosi yang kuat terhadap hal-hal yang tampaknya bagi orang dewasa merupakan soal sepele.
      2.   Emosi seringkali tampak
      Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi yang meningkat dan mereka menjumpai bahwa ledakan emosional seringkali mengakibatkan hukman, sehingga mereka belajar untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi. Kemudian mereka akan berusaha mengekang ledakan emosi mereka atau bereaksi dengan cara yang lebih dapat diterima.
      3.   Emosi bersifat sementara
      Peralihan yang cepat pada anak-anak kecil dari tertawa kemudian menangis, atau dari marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang merupakan akibat dari 3 faktor, yaitu :
a. Membersihkan sistem emosi yang terpendam dengan ekspresi terus terang.
b. Kekurangsempurnaan pemahaman terhadap situasi karena ketidakmatangan intelektual dan pengalaman yang terbatas.
c. Rentang perhatian yang pendek sehingga perhatian itu mudah dialihkan. Dengan meningkatnya usia anak, maka emosi mereka menjadi lebih menetap.
      4.   Reaksi mencerminkan individualitas
      Semua bayi yang baru lahir mempunyai pola reaksi yang sama. Secara bertahap dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai macam emosi semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis dan anak lainnya lagi mungkin akan bersembunyi di belakang kursi atau di balik punggung seseorang.
      5.   Emosi berubah kekuatannya
      Dengan meningkatnya usia anak, pada usia tertentu emosi yang sangat kuat berkurang kekuatannya, sedangkan emosi lainnya yang tadinya lemah berubah menjadi kuat. Variasi ini sebagian disebabkan oleh perubahan dorongan, sebagian oleh perkembangan intelektual, dan sebagian lagi oleh perubahan minat dan nilai.



10



      6.   Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku
      Anak-anak mungkin tidak memperlihatkan reaksi emosional mereka secara langsung, tetapi mereka memperlihatkannya secara tidak langsung melalui kegelisahan, melamun, menangis, kesukaran berbicara, dan tingkah yang gugup, seperti menggigit kuku dan mengisap jempol.

2.4 Pertumbuhan fisik dalam bidang sosial anak
Syamsu Yusuf (2007)  menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks.
Dalam perkembangan menuju kematangan sosial, anak mewujudkan dalam bentuk-bentuk interkasi sosial diantarannya :
1.      Pembangkangan (Negativisme)
     Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini mulai muncul pada usia 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia tiga tahun dan mulai menurun pada usia empat hingga enam tahun.
     Sikap orang tua terhadap anak seyogyanya tidak memandang  pertanda mereka anak yang nakal, keras kepala, tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai proses perkembangan anak dari sikap dependent menuju kearah independent.
      2.      Agresi (Agression)
     Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi ( rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubut, menggigit, menendang dan lain sebagainya.
    

11



     Sebaiknya orang tua berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara mengalihkan perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif maka egretifitas anak akan semakin memingkat.
     3.       Berselisih (Bertengkar)
     Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain.
     4.       Menggoda (Teasing)
     Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang menimbulkan marah pada orang yang digodanya.
     5.       Persaingan (Rivaly)
     Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap ini mulai terlihat pada usia empat tahun, yaitu persaingan prestice dan pada usia enam tahun semangat bersaing ini akan semakin baik.
     6.       Kerja sama (Cooperation)
     Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain. Sikap ini mulai nampak pada usia tiga tahun atau awal empat tahun, pada usia enam hingga tujuh tahun sikap ini semakin berkembang dengan baik.
     7.       Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior)
     Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya.
     8.       Mementingkan diri sendiri (selffishness)
     Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya
     9.       Simpati (Sympaty)
     Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya. 





12


KESIMPULAN

Kesimpulan :
1.      Perkembangan dapat diartikan sebagai “perubahan yang progesif dan kontinyu dalam   diri individu dari mulai lahir sampai mati ”. Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan yang dialami individu atau organisme yang menuju tingkat kedewasannya ataau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progesif, dan berkesinambungan baik yang menyangkut fisik maupun psikis.
2.      Konsep-konsep perkembangan meliputi :
a. Kematangan/masa peka (maturation)
b. Latihan (exercises)
c. Belajar (learning)
d  Peserta didik
e. Perkembangan (developement)
3.   Perkembangan intelektual, emosi, dan sosial anak berkembang seiring dengan bertambahnya usia dan perkembangan fisik anak. Perkembangan fisik tersebut dapat mempengarihi pola pikir, kekuatan emosi, dan tingkah laku dalam kehidupan sosial anak.
4.   Kecerdasan intelektual anak berbeda antara satu sama lain sesuai pertumbuhan fisik yang terjadi pada anak tersebut.
5.   Emosi anak juga memiliki tingkatan sendiri sesuai pertumbuhan fisik anak. Anak dengan fisik yang belum berkembang (masih kecil) cenderung memiliki kekuatan emosi yang lebih besar dibandingkan anak yang memiliki pertumbuhan fisik lebih maksimal (usia sekolah). Anak dengan fisik yang tumbuh optimal cenderung mampu menahan emosi yang sedang dirasakan.

13

DAFTAR PUSTAKA

Mรถnks,F.J.Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya.Yogyakarta : Gadjah Mada University Press,2002.
Drs.H.Wahab,Rochmat,M.Pd.M.A,Drs.M.Solehuddin,M.Pd.MA.Perkembangan dan Belajar Peserta Didik.1998/1999.